berkicau dalam puisi sampah
entah saat ini rindu semakin menyerbak
merekah bagaikan segelintir laron dikala pengap
saat tiba masa dimana kekeliruan menjadi arogansi
kekacauan dimana mana disertai makian
engkau adalah daun daun kehidupan
dan pohon cinta disertai akar akar pertumbuhan
benih cinta yang kau yakini selama ini
adalah inovasi untukku dimasa mendatang
wahai sang pujaan hati
alangkah indah ketika engkau masih disini
alangkah merdu suara parau burung burung
dan hijau pun akan berubah menjadi abu
abu yang menyakiti sekujur dadaku
kini engkau sudah tiada
kini engkau sudah dipanggil jaman
untukmu wahai sang pencinta
untukmu wahai sang perindu
untukumu
wahai
sang
penakluk hati
dan hijau pun akan berubah menjadi abu
abu yang menyakiti sekujur dadaku
kini engkau sudah tiada
kini engkau sudah dipanggil jaman
untukmu wahai sang pencinta
untukmu wahai sang perindu
untukumu
wahai
sang
penakluk hati